Sosialisasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Pada Petugas Pengangkut Sampah di Raberas

Penulis: Rafi’ah, S.Kep., M.KKK

Institusi: STIKES Griya Husada Sumbawa

Peningkatan volume sampah dan pengelolaan sampah masih menjadi permasalahan hingga saat ini. Peningkatan jumlah sampah rumah tangga per hari yang dihasilkan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat tersebut maka semakin tinggi pula volume sampah yang dihasilkan dan semakin banyak jenis sampah yang dihasilkan, Populasi manusia yang meningkat setiap tahunnya tentu akan menghasilkan sampah yang sebanding pula akibat dari sisa- sisa aktivitas manusia. Kegiatan pengumpulan sampah merupakan aktivitas yang harus dilakukan pada proses pengelolaan sampah sebelum di angkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Aktivitas tersebut dapat menimbulkan potensi risiko yang cukup tinggi karena kotak langsung dengan sampah maupun aktivitas yang dilakukan.

Kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan pekerja yaitu pengumpulan dan pemilahan sampah, mempunyai potensi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja terlebih pelaksanaan K3 belum dilakukan sesuai standar. Petugas pengangkutan sampah adalah salah satu profesi penting yang sering sekali di abaikan. Profesi yang sering di pandang sebelah mata, sebenarnya sangat berperan penting dalam siklus hidup sebuah kota. Petugas pengangkutan sampah berhak untuk mendapatkan perlindungan keselamatan kerja berupa alat pelindung diri untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya kecelakaan dan penyakit saat bekerja. Adapun kendala disebabkan instansi terkait memberikan alat keselamatan kerja tidak sesuai dengan kebutuhan kerja, ketidakpatuhan petugas kebersihan terhadap peraturan yang berlaku, tidak adanya sanksi terhadap petugas kebersihan yang tidak memakai alat keselamatan kerja, dan instansi terkait belum melakukan fungsi pengawasan terhadap petugas kebersihan.

Petugas pengangkut sampah berisiko untuk mengalami keluhan penyakit kulit karena aktivitas pekerjaan setiap hari kontak dengan sampah yang mengandung bakteri patogen, virus, jamur serta vektor pembawa penyakit. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap seperti topi, sarung tangan karet, sepatu boots, baju pelindung, dan masker dapat mencegah kontaminasi sampah ke kulit secara langsung pada petugas. Penerapan K3 di pengangkutan sampah ini masih kurang berhasil dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja. Kurang berhasilnya penerapan K3 di pengangkutan sampah ini sebagian besar belum didukung peralatan lingkungan kerja seperti spanduk K3, alat pelindung diri (helm), tidak adanya sosilisasi K3, kurangnya himbauan-himbauan K3 dan belum adanya petugas keamanan sehingga tenaga kerja tidak terlindungi dari resiko kecelakaan hal ini dikarenakan pengangkutan sampah.

Alat Pelindung Diri (APD) kadang sering sekali tidak digunakan sehingga terkesan belum tersentuhnya pengetahuan pengelola terhadap pentingnya mengutamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). APD merupakan seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya kecelakaan kerja pada tempat kerja, penggunaan alat pelindung diri sering dianggap tidak penting ataupun diremehkan oleh para pekerja, terutama pada pekerja pengangkut sampah karena sudah terbiasa tidak menggunakan APD selama bertahun-tahun bekerja.

Petugas pengumpul sampah seringkali mengalami cedera akibat sampah yang ditangani pada saat melaksanakan tugasnya. Kecelakaan kerja yang sering terjadi pada Petugas pengangkutan sampah diakibatkan karena pekerjaan mereka yang selalu terpapar langsung oleh polusi dan debu, Selain itu petugas kebersihan berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan. Bahaya-bahaya lingkungan kerja baik fisik, biologis maupun kimiawi perlu dikendalikan sedemikian rupa sehingga tercipta suatu lingkungan kerja yang sehat, aman, dan nyaman. petugas pengumpul sampah tidak seluruhnya memakai APD standar. Misalnya memakai penutup kepalanya dengan tas plasik hitam, atau dengan topi biasa. Kondisi seperti ini tidak dapat menjamin petugas sampah terlindungi dari hazard, yang berpotensi menimbulkan penyakit bawaan lalat (Disentri basiler, Disentri amuba, Thypus abdominalis, Kholera, Askriasis, dan Ancylostomiasi), penyakit bawaan tikus/ dan lain-lain. Berdasarkan Hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan pengabdian masyarakat tentang sosialisasi kesehatan dan kesalamatan kerja (K3) pada petugas pengangkutan sampah di Raberas.

Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh penulis yakni meningkatkan pengetahuan Petugas pengangkutan sampah di Raberas tentang K3. Kegiatan Pengabdian ini melibatkan petugas pengangkutan sampah di wilayah Raberas, pelaksanaan telah dilakukan pada  Bulan April-Mei 2022 dan melibatkan 15 petugas pengangkut sampah. Pengabdian dilakukan mulai dari persiapan sampai dengan Evaluasi, metode yang digunakan dalam pengabdian yaitu metode sosialisasi dan penerapan (aplikatif) langsung di lapangan.

Adapun tahapan pelaksanaan pengabdian yaitu tahap Persiapan, Pada tahapan ini tim pengabdian masyarakat melakukan proses surat menyurat dan perisinan di tempat pengabdian serta Survei lokasi yang akan digunakan untuk penyelenggaraan sosialisasi. Tahap Pelaksanaan Setelah mendapat perizinan dari pihak terkait, Kemudian tim mulai melakukan memberikan sosialisasi tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada petugas pengangkutan Sampah di TPA Raberas dan memberikan APD yang layak pada pekerja, untuk digunakan saat bekerja.

Evaluasi yang dilakukan dalam kegiatan ini dengan melakukan wawancara singkat pada petugas pengakut sampah di TPA Raberas. Adapun hasilnya pekerja jadi lebih memahami tentang pentingnya kesehatan dan keselatan kerja (K3) saat bekerja. Petugas juga memberikan tanggapan positif terkait dengan kegiatan pengabdian ini sehingga kesepannya bisa menerapkan K3 saat bekerja. Kebiasaan tidak memakai APD saat bekerja, tidak menggunakan Pakaian kerja yang tepat serta tidak memperhatikan dan menerapkan PHBS bisa menyebabkan Penyakit akibat Kerja, hal ini berkaitan dengan terpaparnya pekerja dengan berbagai macam faktor bahaya baik secara fisik, kimia maupun biologi dalam proses pengakutan sampah ke TPA.

Petugas pengangkutan sampah merupakan salah satu jenis pekerjaan yang rentan menimbulkan kecelakaan dan masalah kesehatan kerja . Kecelakaan kerja yang sering terjadi pada Petugas pengangkutan sampah diakibatkan karena pekerjaan mereka yang selalu terpapar langsung oleh polusi dan debu, Selain itu petugas kebersihan berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan karena terpapar langsung dengan matahari. Bahaya-bahaya lingkungan kerja baik fisik, biologis maupun kimiawi perlu dikendalikan sedemikian rupa sehingga tercipta suatu lingkungan kerja yang sehat, aman, dan nyaman. Berbagai cara pengendalian dapat dilakukan untuk menanggulangi bahaya-bahaya lingkungan kerja, namun pengendalian secara teknis pada sumber bahaya itu sendiri dinilai paling efektif dan merupakan alternatif pertama yang dianjurkan, sedangkan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) merupakan pilihan terakhir. Salah satu upaya dalam rangka pemberian perlindungan tenaga kerja terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk petugas kebersihan adalah dengan cara memberikan APD. Pemberian APD kepada tenaga kerja, merupakan upaya terakhir apabila upaya rekayasa (engineering) dan cara kerja yang aman (work practices) telah maksimum dilakukan.

Berdasarkan kegiatan pengabdian pada masyarakat maka dapat disimpulkan bahwa Petugas Pengangkut Sampah di TPA Raberas harus lebih memperhatikan Kesehatan dan Keselamatn Kerja (K3) terutama menggunakan APD lengkap dan layak saat bekerja, karena pekerjaan yang berisiko terjadi PAK maupun KAK, Proses kegiatan ini melibatkan 15 peserta. Tanggapan petugas pengangkutan sampah mengenai kegiatan ini sangat positif dan diharapkan untuk dilanjutkan lagi. (*)

002

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Walikota Bima Raih Penghargaan Peningkatan MCP KPK Peringkat II Se-NTB

Kam Sep 1 , 2022
Mataram, Tribun Sumbawa – Walikota Bima H. Muhammad Lutfi, SE menerima Piagam Capaian Monitoring Center for Prevention (MCP) Tahun 2021 dengan Skor 85,25 oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kota Bima dalam penghargaan MCP, mendapat Peringkat Ke – 2 di Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penghargaan tersebut diterima langsung pada hari […]