MENAKAR SWASEMBADA PANGAN DI BUMI “INDONESIA MINI”

Taufiq Aryanto
Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Inovasi,
Sekolah Pascasarjana Universitas Teknologi Sumbawa.

Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, tentunya sangat paham bahwa salah satu sektor strategis yang sangat berpengaruh pada ketahanan negara di masa depan adalah sektor pertanian. Dalam berbagai kesempatan bahkan Presiden Jokowi, menyampaikan bahwa masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh 3 (tiga) sektor strategis yang menjadi ajang kompetisi global yang mempengaruhi geopolitik internasional, yakni sektor pangan, sektor energi dan sumberdaya air, yang kemudian lebih banyak diejawantahkan sebagai Industri, Maritim, Energi dan Pertanian (IMEP). Sehingga tidak mengherankan apabila dalam visi misi Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK tahun 2014-2019 saat itu menempatkan swasembada dan ketahanan pangan menjadi prioritas pembangunan, dan 2019-2024 kembali menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan.

Kebijakan pertanian pada era Jokowi melalui Kementerian Pertanian RI telah menetapkan program prioritas dengan target swasembada padi, jagung, kedelai, bawang, cabai, daging, dan gula. Implementasi dari program tersebut, Kementerian Pertanian RI mencanangkan upaya khusus untuk meningkatkan produksi tiga komoditas pangan utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai, diikuti bawang merah dan cabai. Adapun dalam upaya swasembada gula, Kementerian mendorong investasi swasta untuk membangun pabrik baru, selain merevitalisasi pabrik gula.

Program ini menjadi peta jalan Indonesia menuju lumbung pangan dunia pada 2045. Target tersebut dicapai dengan melakukan berbagai terobosan, seperti pengawalan program upaya khusus dan evaluasi harian dengan melibatkan aparat dan akademikus; deregulasi perizinan dan investasi serta asuransi usaha pertanian; juga pengendalian harga, distribusi, impor, dan mendorong ekspor pertanian.

Sementara itu di Kab. Sumbawa, sektor pertanian sendiri menjadi salah satu sektor andalan dalam menopang kehidupan masyarakat diwilayah yang dikenal sebagai “Indonesia Mini”, ungkapan atas kehidupan masyarakat di Kab. Sumbawa yang multietnis. Dengan sektor pertanian ini pula, Kab. Sumbawa masih berusaha menjaga identitas negeri agraris, ditengah gempuran kapitalisme membangun industrialisasi yang semakin mengaburkan identitas tersebut.

Produksi Pangan Kab. Sumbawa

Kab. Sumbawa sebagai salah satu daerah lumbung pangan diregional tengah Indonesia , berdasarkan data Pemprop NTB bahwa pada tahun 2019 lalu, produksi beras Kab. Sumbawa berada diurutan nomor 2 se-NTB setelah Lombok Tengah, yaitu sebesar 277.059 ton, sementara Lombok Tengah (Loteng) sebesar 354.915 ton ¹ . Namun perlu dicatat bahwa jumlah penduduk Kab. Sumbawa pada tahun 2020 sebanyak 461.502 jiwa sedangkan Kab. Loteng sebanyak 955.411 jiwa, masih lebih banyak hampir 50% dari jumlah penduduk Kab. Sumbawa. Artinya dengan produksi dan jumlah penduduk, maka tentunya Loteng menjadi lebih konsumtif dibandingkan Kab. Sumbawa.

Menurut data terbaru Bulog Sumbawa bahwa sampai dengan April 2021 ini produksi pangan kita sudah mencapai 24.896,25 ton, dengan ketahanan stok per-30 April 2021 lalu saja sudah sebesar 18.876 ton setara beras atau cukup untuk kebutuhan 31,5 bulan ke depan,  atau sampai dengan pertengahan bulan Desember 2023. Dengan ketahanan pangan sampai Desember 2023 tersebut menunjukkan bahwa stok pangan yang dimiliki oleh Kab. Sumbawa termasuk yang tertinggi di NTB. Hal ini juga menunjukkan fakta bahwa Kab. Sumbawa merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di NTB.

Peningkatan Produksi Pertanian

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian RI menyatakan bahwa ada 3 langkah besar untuk meningkatkan produksi beras nasional, yaitu : mencetak sawah baru, pemanfaatan dan pengoptimalan lahan terlantar/tidur dan peningkatan intensifikasi atau produktifitas dengan System of Rice Intensification (SRI). 3 langkah besar ini sudah dan terus dilakukan di Kab. Sumbawa. Sesuai data Dinas Pertanian Kab. Sumbawa bahwa pencetakan sawah baru di Kab. Sumbawa saat ini sudah mencapai  luas 8.835 Hektar, tertinggi di NTB. Pembukaan pencetakan sawah baru ini merupakan upaya mengatasi berkurangnya lahan pertanian produktif akibat alih fungsi lahan, dari lahan pertanian menjadi lahan pemukiman. Sehingga tidak jarang kalau kita melihat dan berjalan dari barat sampai ke timur, kalau dahulu kita melihat hamparan lahan pertanian luas disebelah kanan kiri, sekarang mulai berganti menjadi lahan pemukiman warga.  Oleh karena itu kegiatan perluasan sawah baru tidak hanya berhenti sampai penambahan luas baku sawah, namun bermuara pada peningkatan produksi pangan yang intensif dan berkelanjutan.

Untuk pemanfaatan dan pengoptimalan lahan terlantar atau tidur, tercatat seluas 16.212,51 hektar, yang tersebar di 24 kecamatan di Kab. Sumbawa, dengan luas terbesarnya di Kec. Orong Telu seluas  8.074 hektar dan paling sedikit di Kec. Empang seluas 7 hektar. Banyak dari lahan tidur tersebut yang menjadi target dari program pencetakan sawah baru.

Begitu juga dengan upaya peningkatan intensifikasi atau produktifitas dengan System of Rice Intensification (SRI) di Kab. Sumbawa. Dinas Pertanian Kab. Sumbawa masih terus menggalakkan pola budidaya sistem SRI karena telah terbukti mampu meningkatkan produksi padi menjadi 8-12 ton/Hektar.

Intinya bahwa 3 langkah besar untuk peningkatan produksi beras yang didengungkan oleh Dirjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian RI, sudah dijalankan oleh Pemkab Sumbawa, agar swasembada pangan dapat terwujud di “Bumi Indonesia Mini”, Kab. Sumbawa.

Penutup

Menilik dari tuntutan Presiden RI, Joko Widodo tersebut, sudah sepatutnya apabila Kab. Sumbawa sudah bisa menyiapkan program swasembada pangan. Apalagi saat ini Bulog Sumbawa juga sudah mengusulkan pembangunan 4 gudang baru ke Bulog Pusat untuk menampung hasil produksi pertanian para petani, 3 di Kab. Sumbawa yakni di lokasi gudang Labuhan Sumbawa, Lopok, dan Alas, serta 1 lagi di Lamusung, KSB. Diperkirakan tahun 2022 mendatang ke-4 gudang tambahan tersebut dapat menambah daya tampung hasil produksi petani mencapai total 14.000 ton.

Penambahan daya tampung mencerminkan bahwa Kab. Sumbawa sudah sangat siap dalam melakukan swasembada pangan. Sejauh ini Kab. Sumbawa juga sudah turut andil dalam melakukan pemerataan stok pangan secara nasional, dengan melakukan pengiriman keluar daerah, baik NTT maupun Bali, dalam upaya menambah stok pangan diwilayah tersebut. Proyek pengiriman beras atau moveout nasional (moveoutnas) ke NTT sampai dengan Mei 2021 ini mencapai 1.500 ton, untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi NTT.

Intinya jika ‘Indonesia Mini” ini ingin mewujudkan langkah swasembada pangan, sesuai keinginan pemerintah pusat, maka 3 langkah besar diawal dipandang perlu untuk terus ditingkatkan, walaupun saat ini 1 langkah yaitu pencetakan sawah baru sudah tidak lagi dilaksanakan di Kab. Sumbawa akibat kebijakan pemerintah pusat. Selain itu dalam upaya swasembada pangan dibutuhkan kerjasama dan dukungan semua pihak, khususnya para petani untuk tetap disiplin dalam menanam dan juga mengikuti anjuran saran dari pemerintah terkait pola tanam.

Akhirnya yang perlu dipastikan adalah swasembada pangan sangat bisa dilakukan di Kab. Sumbawa, yang akan menjadi sentra lumbung pangan diwilayah tenagh Indonesia, selama seluruh stakeholder yang berkepentingan memiliki keinginan kuat untuk mewujudkan hal tersebut bersama-sama. Memang masih banyak hal yang harus dipersiapkan untuk mewujudkan swasembada pangan tersebut, namun tidak ada yang tidak bisa, selama hal tersebut dikerjakan bersama-sama.

Daftar Acuan :

  1. Sumbawa Dalam Angka, BPS Sumbawa, 2020.
  2. Realisasi Cetak Sawah tahun 2008 s/d 2020 dan Lahan Sementara Tidak di Usahakan Kab. Sumbawa, Data Dinas Pertanian Kab. Sumbawa, 2021.
  3. https://data.ntbprov.go.id/dataset/rekapitulasi-produksi-luas-panen-dan-produktiitas-padi-di-provinsi-ntb/
  4. https://ntb.bps.go.id/indicator/12/29/1/penduduk-kabupaten-kota.html

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PERAN FKDM DALAM MEMINIMALISIR KONFLIK SOSIAL

Rab Mei 12 , 2021
Ada ungkapan “satu bangsa beda etnis… konflik, satu etnis beda agama…konflik, satu agama beda pendapat…konflik”, sepertinya konflik tersebut tidak akan pernah habis-habis apabila terus dicari perbedaannya. Seperti kita ketahui bersama bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang terancam krisis, terutama menyangkut meningkatnya tren konflik sosial akibat berbagai macam persoalan, apalagi menyangkut […]