Diawali Dari Provokasi Media Sosial dan Adu Domba Oleh Segelintir Orang, Lapak Pasar Lebaran Dibubarkan

Kota Bima, Tribun Sumbawa – Pemicu dilakukan penertiban serta pembubaran Pasar Lebaran di Amahami Kelurahan Dara Kecamatan Rasanae Barat tersebut, yaitu dari kritikan segelintir Orang yang mempunyai sifat SMS (Susah Melihat orang Senang atau Senang Melihat orang Susah), yang mempostingnyan di Media Sosial ‘Face Book’ foto yang menampilkan kegiatan dipasar lebaran. Dengan beretorikan bahwa pasar lebaran tersebut adalah tempat perjudian dan tidak mematuhi Protokol Kesehatan. Sedangkan, yang kita ketahui bahwa, Panitia Pasar dan Petugas sangat tegas kepada pengunjung maupun pedagang untuk menggunakan masker dan cuci tangan saat memasuki Pasar Lebaran. Dan ini ada sebuah bentuk provokasi serta Adu Domba dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan pribadi, sehingga nasib pedagang pasar harus menerima Lapak pasar yang dibubarkan oleh Aparat. Jum’at, (07/05/2021) siang tadi.

Foto: Sebuah Akun Face Book yang memposting kegiatan di pasar lebaran

Sudah banyak, bahkan tak terhitung teman-teman kita di media sosial yang mengingatkan teman yang lain untuk berpikir sebelum bicara, tabayyun sebelum menulis suatu hal, klarifikasi sebelum share status. Karna itu mengakibatkan pyisikologi massa, dan identik dengan Provokasi Medsos dan asli Adu Domba antara Pemerintah Kota Bima dan Pedagang Pasar. Yang pada awalnya sudah berjalan selam tiga hari, kok tiba-tiba dibubarkan begitu saja.

Saat dimintai keterangan oleh Awak Media Tribun Sumbawa, Amiruddin salah satu pedagang pasar lebaran mengakui, bahwa pembubaran pasar ini adalah Murni Rasa iri hati segelintir orang, yang memprovokasi dengan bermain kritikan di media sosial, yang dapat menghipnotis pembaca dengan merespon atau mendukung kritikan tersebut. Demikian Pemerintah Kota Bima yang pada awalnya menyetujui jalannya kegiatan pasar lebaran tersebut, namun berbalik kata, justru Pemerintah juga kembali melarang keras adanya kegiatan pasar lebaran tersebut.

“kami pedagang pasar lebaran sangat bingung dengan apa yang diinginkan oleh Pemerintah Kota Bima, yang sebelumnya sangat mendukung adanya pasar lebaran ini. Kok malah sekarang dibubarkan begitu saja, tanpa ada pernyataan yang jelas. Dan menurut saya, pembubaran ini ada kaitannya dengan provokasi atau adu domba segelintir orang yang memposting di kegiatan perjudian dan suasana pasar yang tidak mematuhi Prokes lewat media sosial Face Book,” ungkap Amiruddin yang sangat kecewa dengan pembubaran Lapak Pasarnya, karena mengeluarkan uang senilai Rp 600 ribu. Yang sangat berharap kegiatan pasar tersebut, selesai hingga malam takbiran.

“Kalaupun ada beberapa Oknum yang menyediakan tempat perjudian, itu menurut saya dikeluarkan aja. Kok malah semua pedagang yang kena imbasnya, dan untuk pantauan saya dilapangan. Bahwa Panitia dan petugas pasar lebaran selalu menghimbau kepada pedagang dan pengunjung pasar, untuk selalu mematuhi Protokol Kesehatan Covid-19,” tambah Amir.

Terlepas dari itu, untuk saat ini dari pantauan kami, bahwa Pasar Tanah Abang yang notabenenya adalah sama-sama wilayah Indonesia, terpenting adalah Ibukotanya NKRI, sampai sekarang masih tetap terbuka dan sangat dipadati oleh pengunjung pasar. Walaupun sebelumnya sempat menjadi perdebatan, yang pada intinya adalah tetap mematuhi Protokol Kesehatan Covid-19.

Foto: Pasar Tanah Abang dipadati Pedagang dan Pengunjung Pasar.(Red).

Sebelumnya telah diberitakan, bahwa Tim gabungan terdiri dari TNI-Polri dan Satuan Polisi Pamong Praja melakukan instruksi Pembongkaran pasar lebaran kepada para pedagang di pasar Ama Hami Kota Bima.Tim yang dipimpin langsung Kapolres Bima kota dan Dandim Bima melakukan sidak keliling bangunan pasar malam.

Terlepas dari itu, Kapolres Bima Kota AKBP Haryo Tejho Wicaksono,S.I.K SH mengungkapkan instruksi pembongkaran pasar lebaran ini dinilai melakukan kerumunan tidak taat protokol kesehatan Covid-19. Sebab itu pihaknya meminta agar segera semua peralatan dibongkar.

Pihaknya juga menekankan,ada dua opsi pedagang harus segera mengosongkan lapangan pasar Ama Hami. jika tidak Anggota akan tutup semua,jika masih melakukan aktifitas pihaknya akan menyita alat dan jenset yang masih melakukan aktifitas ungkapnya dihadapan pedagang wahana sarana permainan anak.

Kapolres juga mengingatkan, langkah ini dilakukan mengingat di India wabah Corona sudah mencapai  70 persen terjangkit. karena kurangnya kesadaran dan kerumunan, evoria,dan melupakan protokol kesehatan serta mengabaikan aturan kesehatan, hal ini menjadi perhatian Pemerintah.

Dijelaskannya, Kami sudah sampiakan Panitia dan Asosiasi pedagang seluruh Indonesia  (APSI) memiminta agar di bongkar tenda tenda masing-masing. jika masih ada kegiatan akan 

kami tindak pengamanan orang dan barang akan kami sita.

Lanjut Kapolres, Membludaknya orang di pasar malam juga tidak taat protokol kesehatan jadi ancaman. makanya kita beri izin sebelumnya karna panitia dan pelaku pasar jamin penegakan protokol kesehatan namun tidak sesuai harapan dilapangan.

“Kami melakukan peringatan instruksi ini kurangnya kesadaran kerumunan, pasar malam, takutnya ada klaster baru Covid 19 lagi,” terang Kapolres.

Disinggung soal adanya perjudian waktu di pasar malam ?

Foto: Salah satu pedagang pasar (Amiruddin) yang mengemaskan barang dagangnya, yang akan dibawa pulang kembali dirumahnya, serta akan dijadikan pajangan saja.

“Kosongkan seluruh pasar malam mulai hari ini. tidak ada aktivitas apapun, Kami menilai Kurangnya taat protokol kesehatan pengunjung,”tuturnya.

Dari hasil pantauan Tribun Sumbawa,di lokasi beberapa pedagang juga tidak terima dilakukan pembongkaran,sempat melakukan debat dengan panitia pasar malam keberlangsungan kegiatan pasar malam. (TS/IM)

wartawan tribun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ketua DPRD Sumbawa Minta Puskesmas Tidak Layani SKTM Ditindak Tegas

Sab Mei 8 , 2021
Sumbawa Besar, TRIBUNKetua DPRD Kabupaten Sumbawa – Abdul Rafiq mengungkapkan, saat ini masih terdapat sejumlah Puskesmas yang tidak melayani pasien dengan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk berobat. “Banyak kasus yang terjadi di lapangan termasuk juga beberapa waktu lalu saya mendapat kasus disalah satu puskesmas terkait dengan penerimaan SKTM,” ungkapnya […]