Kuota Solar di SPBU Dibatasi

Sumbawa Besar, Tribun-sumbawa.com – Dari pantauan Tribun Sumbawa, sejak beberapa hari lalu selalu terlihat antrian panjang kendaraan, khususnya kendaraan bermesin diesel di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang hendak melakukan pengisian BBM. Dan diketahui, antrian tersebut disebabkan pengurangan atau pembatasan kuota solar yang disalurkan oleh Pertamina ke SPBU.

“Kan jatah dari pertamina dikurangi. Seumpama hari senin kita diberikan 8 Kilo liter, selasa lagi sekian,” kata Heri Susanto, Operator salah satu SPBU di Kota Sumbawa Besar, Rabu (16/09).

Diungkapkan, pembatasan jumlah pasokan solar ke SPBU telah diberlakukan oleh Pertamina sejak 1 September lalu, dan rencananya hingga akhir bulan. Sedangkan sebelumnya, Pertamina selalu menyuplai Solar, sesuai permintaan SPBU.

“Kita tidak bisa minta lebih, cukup sudah segitu. Karena memang sudah dijatah, itu dari tanggal 1 kemarin, dan katanya sampai akhir bulan. Kalau bulan kemarin tidak seperti itu, tidak dijatah. Berapa kita minta, kita diberikan. Itulah makanya kemarin-kemarin tidak langkah. Makanya sekarang langkah karena dijatah. Semua SPBU sepertinya, juga dijatah. Cuma yang kita tidak bisa pastikan berapa masing-masing SPBU dijatah. BPH Migas yang memutuskan jatah, dan pertamina hanya menyalurkan,” jelasnya.

Dijelaskan, ketersediaan solar di SPBU saat ini, tidak dapat melayani konsumen selama 24 jam. Sebab, solar akan habis antara 8 hingga 12 jam, tergantung jumlah suplay yang diperoleh dari pertamina setiap hari.

“Kalau kita dikasi 8 kilo liter, terus masuk pagi sekitar jam 9. Itu sore sudah habis. Terus kalau dikasih 16 kilo liter, itu habis paling lama jam 10 malam,” ucapnya.

Diungkapkan, dengan pembatasan tersebut, SPBU memprioritaskan kendaraan kemudian pemegang rekom untuk keperluan pengecer di pelosok. Sehingga berpotensi menempatkan SPBU menjadi sasaran kekecewaan masyarakat yang membutuhkan solar.

“Memang kita di SPBU mengutamakan kendaraan dulu, baru pemegang rekom untuk pengecer itu. Meski kita tahu itu digunakan oleh petani dan nelayan. Tapi masyarakat tidak mau tahu. Mereka kadang-kadang tahunya ada di SPBU saja. Kayak kemarin ada yang sampai hampir berkelahi, gara-gara sudah lama menunggu dan antri tapi tidak dapat solar. Mereka juga marah-marah ke kita. Kita hanya bisa memberi penjelasan dan minta maaf,” ucapnya.

M. Yasin Musamma, Anggota Komisi II DPRD Sumbawa dari Fraksi Partai Demokrat, di ruang kerjanya mengakui, dari hasil penelusuran yang dilakukan di beberapa SPBU di Kabupaten Sumbawa, terjadi antrian kendaraan yang hendak melakukan pengisian solar. “Ternyata memang ada pengurangan atau pembatasan kuota yang disalurkan oleh pertamina ini,” katanya.

Ia berharap, agar Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), meski diberlakukan pengurangan kuota, namun jumlah yang disalurkan ke SPBU dapat ditambah dari sebelumnya. Agar dapat mengurai kembali antrian-antrian yang terjadi di SPBU. (Ts/011)

wartawan tribun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Indikasi Penyelewengan di Pertamina Depot Badas Akan Dilaporkan

Rab Sep 16 , 2020
Sumbawa Besar, Tribun-sumbawa.com – Salamuddin Maula, mantan anggota DPRD Sumbawa dua periode, akan melaporkan dugaan penyelewengan dan penyimpangan yang tejadi di Depot Pertamina Labuhan Badas ke Kejaksaan. Demikian disampaikan dalam konsultasi kelangkaan BBM jenis solar di ruang pimpinan DPRD Sumbawa bersama Komisi II DPRD Sumbawa, bersama pihak pertamina depot badas, […]