BNNK : Peredaran Narkoba di Sumbawa Mengkhawatirkan

Sumbawa Besar, Tribun-sumbawa.com – Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sumbawa, Ferry Priyanto menegaskan, peredaran gelap narkoba di Kabupaten Sumbawa sangat mengkhawatirkan. Sebab, berbagai kasus yang penangkapan di NTB, umumnya terkait dengan Kabupaten Sumbawa.

“Di Sumbawa ini sudah sangat mengkhawatirkan, sudah sangat darurat peredaran gelap narkoba. Semua jaringan yang ketangkap di NTB ini, pasti larinya ke Sumbawa. ada hubungannya dengan Sumbawa. Bandarnya, kurirnya, pasti ada hubungannya dengan Sumbawa,” kata dia di ruang kerjanya, Selasa (30/06).

Diungkapkan, selain jaringan, ditemukan banyak pengguna narkoba masih duduk di bangku Sekolah Dasar. “Sekarang banyak kejadian yang terpapar itu, anak SD. Dari yang datang rehab ke sini. Bahkan anak SD ini mengajak anak SMP, untuk penyalahgunaan. Narkoba ini tidak bisa sendiri, pasti ada temannya,” jelasnya.

Ditegaskan, sehingga kepeduian masyarakat dan keluarga sangat diperlukan. Bahkan Undang-undang nomor 35 tahun 2009, menekankan pentingnya andil dan partisipasi masyarkat. “Penangkapan itu bukan solusi. Yang ktia harapkan sekarang ini, bagaimana kita menyelamatkan yang belum kena. Kemarin syukur alhamdulillah, provinsi sudah mengeluarkan statement bahwa kalau masuk SMP harus dilampirkan surat bebas narkoba. Dilakukan test urine, kemarin ada salah persepesi disini. Masa hanya dengan pengakuan orang tua saja, diterima. Kan orang tua tidak tahu apakah anaknya pemakai atau tidak, test urine saja yang bisa jadi deteksi dini,” jelasnya.

Disebutkan, saat ini banyak anak-anak yang menjadi pengguna narkoba, dan orang tua cenderung untuk menyebunyikan karena dianggap aib. Padahal pengguna dan pecandu, merupakan pesakitan atau korban yang musti diselamatkan, dipulihkan dan direhabilitasi. “Itu bukan aib. Rehabilitasi di BNN itu, gratis, tidak dipenjara, identitas dirahasiakan,” tegasnya.

Bahkan, imbuhnya, kasus-kasus kriminalitasi di Kabupaten Sumbawa, banyak dilatarbelakangi oleh narkoba. Salah satunya, kasus pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu yang diketahui pelaku mengkonsumsi narkoba jenis shabu sebelum melakukan pembunuhan. Bahkan di lembaga pemasyarakatan, 60 hingga 70 persen penghuni terkait dengan narkoba.

“Sekarang bagaimana masyarkat, anak-anak kita berikan pemahaman sehingga menjadi imun. Tidak kena narkoba ini. Kalau tidak ada pembelinya, maka penjualnya menyingkir dia,” ucapnya.

Diakui, BNNK Sumbawa terbatas SDM dan Anggaran. Sehingga dibutuhkan dukungan dari Pemda Sumbawa, termasuk berisiatif sebagai untuk melakukan test urine, melakukan sosialisasi, membuat satgas atau relawan anti narkoba dan membuat regulasi.

“Kenapa pegawai lembaga yang harus ditekan dulu, karena mereka sebagai contoh dari masyarakat, dan sebagai penggerak. Kalau aparatnya nggak bersih, ya tidak akan teratasi ini. Dari atas sudah ada aturan untuk menekan kementerian dan lembaga. Contohnya surat edaran Menpan nomor 50 tahun 2017, itu mengharuskan kementerian lembaga, Bumn, Bumd sampai desa. Tahun 2018 ada inpres nomor 86 memperkuat lagi. Tahun 2019 ada Permendagri, fokus agar pemda dan instasi kementerian lebaga harus memfasilitasi kegiatan p4g dan akan dilaporkan ke presiden langsung. Tahun 2020 ada inpres nomor 2, presiden keluarkan lagi karena tambah genting negara karena narkoba ini,” ucapnya.

Ditegaskan, saat ini di Kabupaten Sumbawa pengguna dan peredaran gelap narkoba cenderung mengalai peningkatan dari sebelumnya. Terbukti dari peningkatan signifikan masyarakat yang datang untuk melakukan rehabilitasi.

“Kecenderungan kita di sumbawa meningkat, karena parameter yang datang rehabilitasi. Tahun kemarin sekitar 40 orang. Sekarang sampai bulan ini sudah 100 lebih orang yang datang rehabiliatasi. Itu juga ukuran kinerja kita, artinya dengan adannya BNN itu orang pada sadar ingin pulih. Artinya bahwa pesan kita bahwa narkoba itu sampai ke masyarakat,” jelasnya.

Dan secara nasional, Tahun 2018-2019 diperkirakan sekitar 3 juta orang di Indonesia menjadi pengguna. Dan pada 2019-2020 sekarang diperkirakan mencapai 4 juta lebih orang yang menyalahgunakan narkoba.

“Ini yang kita khawatirkan sekali. Karena juga bandar internasional ini selalau sasarannya Indonesia ini. Kita penekanannya pada keluarga, masyarakat. karena permasalahan narkoba ini bukan persoalan kita saja. Tapi persoalan kita semua,” ujarnya. (Ts/011)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com