“Minimalisir Maraknya Kasus Bunuh Diri Pelajar” Dinas Dikpora Dompu Bentuk Pokja

DOMPU,TRIBUN

Upaya meminimalisir kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan remaja putri yang masih status pelajar di Dompu, Dinas Dikpora Kabupaten Dompu akan menjalankan program pembinaan pendidikan keluarga pada sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK di Kecamatan Huu khususnya dan Dompu umumnya.

Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Pembinaan Pendidikan Keluarga yang juga Kabid PLS, Dinas Dikpora Dompu, M Yusuf, M. Pd., ditemui wartawan, Selasa (19/3/2019) menyebutkan bahwa pokja itu baru terbentuk tahun ini. Namun di tahun 2018 lalu sudah melakukan Bimtek awal dengan Kepala-kepala sekolah, pengawas, kelapa UPT dan Kepala Desa se Kecamatan Huu.

“Pokja yang sudah terbentuk ini bekerja untuk mendekatkan antara orang tua, siswa dan pihak sekolah. Tidak hanya itu, pokja ini juga untuk memberikan pendampingan dan supervisi pendidikan dalam meningkatkan keterlibatan keluarga dan masyarakat dengan satuan pendidikan, “kata M Yusuf.

Menurutnya, persoalan anak, orang tua tidak bisa seutuhnya menyalahkan guru ketika ada sesuatu yang keliru dalam pendidikan anak. Hal sebaliknya, Orang tua maupun guru merupakan orang yang berperan penting dalam pendidikan anak.

Dikatakan, selama ini banyak terjadi kesalahan terkait hubungan antara orang tua dan anak dalam hal pendidikan. Terkadang orang tua tidak mampu memahami perkembangan psikologis anak. Akibatnya, anak susah dikendalikan, sering menkonsumsi minuman beralkohol hingga berujung pada aksi bunuh diri minum racun.

“Persoalan ini karena belum ada dukungan sacara psikologis dari orang tuanya. Orang tua harus mampu memahami perkembangan psikologis anaknya. Harusnya sekolah juga mengajak agar diberikan pemahaman tentang prilaku anak terutama oleh guru bimbingan konseling, “ungkapnya.

Yusug juga mengatakan, bahwa akhir-akhir ini ia sering mendapatkan informasi dari guru-guru SMP, SMA/SMK di Kecamatan Huu. Dimana anak-anak sekolah masuk ruangan belajar dalam kondisi tidak normal karena dipengaruhi alkohol. Sehingga saat proses pembelajaran susah dikendalikan guru.

“Hal ini sudah menjadi sesuatu yang kerap dikeluhkan oleh guru dan masyarakat. Jadi susah mengajar karena pengaruh alkohol. Kejadian bunuh diri ini mirip-mirip seperti itu, tidak pulang kerumah, dimarahi orang tua lalu minum racun, “katanya.

Yusuf menambahkan, bahwa program pembinaan pendidikan keluarga yang dicanangkan Dikpora itu memiliki tujuan agar ada paguyuban keluarga di kelas. Seperti, guru atau wali kelas saling menukar nomor handphone dengan wali murid. Upaya ini agar mereka bisa saling menyampaikan informasi terhadap anak yang tidak masuk sekolah atau sakit kepada guru.

“Sekarang ini jarak sekolah dengan orang tua sangat tidak nyambung. Jadi tidaklah wajar kita melihat dijalan saat jam belajar banyak siswa ditemukan keluyuran diluar sekolah. Artinya ada miskomunikasi antara sekolah dan orang tua,”terangnya.

Lanjutnya, dengan pembinaan terhadap program tersebut, anak-anak yang punya karya ditampilkan di sekolah dan dipamerkan saat kegiatan ekstra kurikuler maupun saat pembagian rapor dengan menghadirkan orang tua. Ttujuan bagaimana membangkitkan semangat belajar siswa serta untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif dari siswa.

    Disatu sisi, selama rentan waktu Januari sampai Maret tahun 2019 ini sebanyak 6 kasus percobaan bunuh diri dengan cara menenggak racun terjadi di Kecamatan Huu, Kabupaten Dompu. Rata-rata korban pelajar SMP dan SMA sederajat. Dari 6 kasus itu, 4 orang dinyatakan meninggal dunia dan 2 orang lainya berhasil diselamatkan.(TS/RF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com