Pengusaha ‘Serbu’ Kantor BRI Cabang Sumbawa

SUMBAWA BESAR, TRIBUN

Kantor BRI Cabang Sumbawa didatangi pengusaha Ny. Lusy dan suaminya Atun Yunadi bersama puluhan massa pada Senin (26/11). Mereka menuntut pihak BRI dan kurator yang melakukan penyitaan asset milik pengusaha tersebut berupa Toko Harapan Baru di Jalan Kartini dan Toko Mitra Tekhnik di Jalan Sultan Kaharuddin Kelurahan Brang Bara Sumbawa Besar, untuk bertanggungjawab. Sebab, barang milik pribadi pengusaha yang masih berada didalam toko banyak yang hilang digondol maling, sementara barang itu tidak termasuk dalam material yang disita.

Aksi tersebut nyaris ricuh antara pendemo dengan aparat Kepolisian yang berjaga di gerbang utama kantor BRI. Saling dorong pun terjadi, karena Polisi tidak mengizinkan massa masuk ke dalam. Berkat negosiasi yang dilakukan Kasat Shabara, IPTU Mulyadi SH didampingi Kepala Polsubsektor Kota, IPDA M Yusuf dan IPDA Legiman selaku Kaur Bin Ops Sabhara, situasin terkendali. Dua perwakilan massa yakni Ny Lusy dan putrinya diizinkan masuk untuk bertemu dengan manajemen BRI setempat.

Bertempat di ruang rapat BRI yang dipimpin Kabag Ops, AKP Burhanuddin, pertemuan tidak membuahkan hasil. Sebab Pimpinan Cabang BRI, Raden Pandu Bagja Sumawijaya tidak berada di tempat. Hanya diwakilkan oleh dua orang stafnya. Ny Lusy menolak karena dia sudah beberapa kali datang ke BRI namun tetap saja dihadapkan dengan dua staf tersebut, sementara Pimpinan BRI selalu tidak berada di tempat. Meski demikian setelah ditengahi, Ny Lusy akhirnya mau membeberkan persoalan yang dialaminya.

Ny. Lusy menjelaskan, dia datang secara baik-baik ingin menyelesaikan kewajibannya. Ini sudah dilakukan beberapa kali tapi tetap saja pihak bank menolak. Bank mau menerima asalkan Ny Lusy membayar hutang sesuai dengan perhitungan sepihak BRI. Ia merasa aneh karena jumlah hutang yang disebutkan pihak Bank selalu berubah-berubah, fluktuatif. Saat datang pertama, Ny Lusy ditawarkan untuk membayar hutang sebesar Rp 9 milyar lebih. Itupun hutang ini dibayar setelah ada pelelangan asset miliknya yang disita. Ny Lusy menolak karena hutang menurut perhitungannya hanya Rp 5,1 milyar. Setelah beberapa lama, Ny Lusy kembali datang. Kali ini hutangnya dinaikkan menjadi Rp 17 milyar. Hanya dalam hitungan menit, hutang diturunkan menjadi Rp 15 Milyar. Karena jumlah hutang versi bank yang semakin tidak jelas, Ny Lusy pulang. Akhirnya datang pihak BNI menemuinya. Orang BNI ini mengatakan bahwa pihaknya bersedia melakukan take over hutang Ny Lusy di Bank BRI. Tapi BNI didampingi legalnya meminta agar Ny Lusi melunasi hutang Rp 13 Milyar. Ny Lusy menolaknya karena hutang di BNI memiliki bunga yang tinggi. Pihak BNI pun menurunkan jumlah hutang menjadi Rp 11 Milyar, lalu turun lagi Rp 9 Milyar. Tak berselang lama informasi dari Hakim Pengawas bahwa hutang yang harus dibayar Ny Lusy Rp 8,3 Milyar. Selanjutnya informasi dari pengacaranya, bahwa Bank telah menurunkan hutang Ny Lusy menjadi 7,3 milyar. ‘’Mana ada hutang piutang turun-terus. Inikan aneh namanya,’’ ujarnya.

Selain itu Ny Lusy juga melaporkan dugaan pencurian barang-barang pribadi miliknya yang masih berada di asset (Toko Harapan Baru) yang disegel pihak BRI melalui Kurator.

Pihak BRI Sumbawa yang menanggapi persoalan asset milik Ny Lusy menjelaskan, ini sudah tidak ada kaitannya dengan BRI sejak dinyatakan pailit berdasarkan penetapan majelis hakim Pengadilan Niaga pada PN Surabaya. BRI mempersilahkan Ny Lusy untuk menyampaikan persoalan itu kepada Kurator. Jika tidak puas dapat menempuh upaya hukum. Penjelasan BRI ini langsung disemprot Ny Lusy. Menurutnya BRI tidak konsisten. Di satu sisi menyatakan sudah tidak ada kaitan dengan BRI tapi di sisi lain mereka terlibat dalam proses penyegelan asset, bahkan Pimpinan BRI Sumbawa sendiri yang turun tangan menghitung uang di laci kasir toko yang kebetulan dijaga oleh suami Ny. Lusy—Atun Yunadi.

Saling debat antara pengusaha dan pihak Bank, akhirnya Kabag Ops Polres Sumbawa menengahi. Kabag Ops berjanji akan menyampaikan persoalan ini kepada Kapolres Sumbawa dan selanjutnya mengundang kedua belah pihak untuk membicarakan masalah tersebut. Keduanya sepakat, dan massa aksi pun membubarkan diri. (TS/002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com